



Komik Elang Jawa: Bandit Pasar Setan (2025) merupakan novel grafis karya sutradara Fajar Nugros dan komikus Apriyadi Kusbiantoro. Plot ceritanya berlatar belakang sejarah fiksi pada tahun 1755, tepatnya pasca-Perjanjian Giyanti yang membelah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian: Mataram Timur dan Mataram Barat.
Cerita berfokus pada dua utusan yang dikirim oleh masing-masing kerajaan. Satu utusan berangkat dari arah Timur dan satu lagi dari Barat. Titik di mana kedua utusan ini saling bertemu nantinya akan ditetapkan sebagai batas resmi wilayah antara kedua kerajaan Mataram tersebut. Sepanjang perjalanan, para tokoh menghadapi berbagai tantangan, mulai dari intrik politik kerajaan hingga ancaman fisik dari para bandit di wilayah tak bertuan. Komik ini memperkenalkan karakter-karakter unik, salah satunya adalah Gajah Wong, yang namanya diambil dari sebuah sungai bersejarah di Yogyakarta. Selain aksi dan petualangan, plotnya mengeksplorasi hubungan manusia dengan sejarah, ambisi kekuasaan, serta batas-batas moral di tengah kekacauan politik.
Fajar Nugros telah menyutradarai lebih dari 15 film layar lebar, termasuk genre drama-komedi populer seperti seri Yowis Ben, Cinta Brontosaurus, dan Srimulat: Hil yang Mustahal. Apriyadi Kusbiantoro adalah komikus yang telah menembus pasar internasional, khususnya Eropa. Karyanya seperti Lemuria, Adjisaka, dan Saul diterbitkan secara rutin oleh penerbit di Belanda, Belgia, hingga Jerman. Kolaborasinya dengan Fajar Nugros dalam Elang Jawa tercatat sebagai tim "Full Indonesia" pertama yang karyanya diterbitkan di majalah komik bergengsi Belanda, Eppo Stripblad.
No comments:
Post a Comment