



Sastra grafis atau komik Film Noir (2025) merupakan adaptasi dari cerpen karya Iksaka Banu yang mengusung tema ambisi, kesepian, dan sisi gelap dunia perfilman diterbitkan oleh penerbit Sebermula. Cerita berfokus pada seorang sutradara tua yang sudah melewati masa jaya, namun kembali menemukan gairah untuk berkarya. Gairah tersebut muncul kembali ketika ia bertemu dengan seorang aktris muda berbakat yang didambakannya untuk memerankan karakter dalam proyek film terbarunya. Alur cerita mengeksplorasi hubungan kompleks antara sutradara tersebut dengan sang aktris, di mana batasan antara kehidupan nyata dan skenario film yang mereka garap mulai mengabur. Sesuai dengan genre noir, cerita ini menampilkan elemen-elemen seperti kepalsuan cinta, pengkhianatan, dan ambisi yang pelan-pelan menggerogoti karakter-karakternya di balik gemerlap layar kamera. Secara visual, komik ini menggunakan gaya monokromatik hitam-putih yang solid untuk memperkuat kesan misteri dan estetika film noir. Cerita ini awalnya dimuat dalam kumpulan cerpen Iksaka Banu berjudul Ratu Sekop sebelum akhirnya diadaptasi menjadi novel grafis oleh komikus Pipin Tobing.
Saya pribadi sangat menyukai cerita dan goresan dari komik ini. Meski ceritanya sederhana namun komik ini berhasil mengeksplorasi sisi emosional sang tokoh utama sehingga sebagai pembaca, saya juga ikut merasakan emosi sang tokoh utama. Selain itu goresan dan warnanya juga bernuansa noir seperti film kriminal era 1950an. Saya merasa beruntung bisa memiliki dan membaca komik ini karena memang layak disebut disebut sebagai sastra grafis...